Inilah Hati Terdalam Seorang Wanita

 


Ini kisah seorang Ibu, berusia 30 tahun. Wajahnya tampak lesu, pucat legam, mulai keriput, berminyak, seperti tidak pernah menggunakan taburan bedak kecantikan bertahun-tahun. 

Coba kita lihat rambutnya. Rambutnya panjang hingga hampir menyentuh tulang ekornya. Ini jika kita melihatnya setelah ia kramas. Jika sudah kering, berbeda lagi. Akan ia gulung-gulung dengan jepitan rambut, hingga bahkan tidak lagi bisa menyentuh tulang ekornya. Jangankan tulang ekor, lehernya saja tidak tersentuh. Jika kita amati, ternyata dia tidak pernah sisiran berhari-hari. Dia akan sisir rambutnya, jika ia selesai kramas. 

Mari kita lihat kulitnya, mulai dari kaki dan tangannya. Banyak sekali noda-nida hitam bekas gatal. Tak juga mulus seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Bahkan sangat kering seperti tak pernah tersentuh lotion. 

Mari kita lihat penampilannya, mulai dari bentuk tubuh hingga pakaian yang ia kenakan. Bentuk tubuhnya seperti orang yang tak beraturan. Jika gemuk tapi tidak segar, jika langsing tapi ada lipatan-lipatan daging berlebih. Apalagi dengan pakaian yang ia gunakan. Hanya menggunakan celana pendek dan singlet atau kaos oblong. Setidaknya pakaian agar ia bisa bergerak bebas. Tidak memikirkan itu sudah ada yang sobek, atau kusam, atau tidak bau parfum. 

Mari kita lihat wadah kosmestiknya dia. Apakah di temukan bedak, fondation, lipstik, skincare, seperti kebanyakan wanita lainnya? Atau muncul pertanyaan, kapan terakhir beli lipstik, beli bedak, pakai skincare? 

Mari kita lihat alas kakinya yang ia gunakan sehari-hari atau untuk bepergian. Apa yang terlihat hanya sebuah sendal japit sudah tipis, tinggal menunggu kapan putusnya itu sandal? Ternyata di pakai saat di rumah, saat bepergian ke rumah sakit, ke ruang publik, ke luar kota tempat saudara. 

Ya, dialah ibu rumah tangga yang hanya di rumah saja untuk mengurus keluarganya. Akan tetapi, dia pernah jadi wanita karir lho. Banyak di kenal orang, mulai dari masyarakat umum hingga pejabat publik. Kira-kira 2 tahun yang lalu. 

Ia terlihat seperti wanita yang sudah berusia, namun masih banyak yang melirik. Mulai dari rambutnya yang terlihat sering di bawa ke shalon untuk perawatan. Wajahnya yang kelihatan fresh dengan bedaknya, lipstiknya, eye shadow, blush on, dll. Bajunya yang trendy dengan sepatu high heelsnya beserta tasnya yang elegan. 

Bahkan sering juga di jumpai hampir setiap hari berada di Mall, Coffe shop, Restaurant, Bandara, Stasiun, perkantoran, dll. 

Sangat berbeda jauh dengan keadaan sekarang. Ya, karena ia memilih untuk diam saja di rumah dan merawat sendiri anaknya, sejak ia di karuniai seorang anak yang menggemaskan. 

Hidupnya, waktunya, tenaganya, pikirannya, semua yang ia punya semua curahkan untuk anaknya. Agar bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. 

Dulu ia sehari bisa mandi 2 kali sehari, dengan waktu yang lama, bisa lukuran, shampian dan creambath seenak yang ia mau. Kini ia mandi sehari sekali, itupun malam hari menunggu anaknya tidur pulas. 

Dulu ia bebas mau makan apa saja, sesuka hati dia, belanja makanan apapun yang dia mau. Kini, ia bisa ada waktu untuk makan saja sudah bersyukur. Belum saat ia makan, masih di gangguin anaknya. Sehingga bagaimana caranya ia bisa makan dengan waktu yang sangat kilat. 

Dulu, ia bisa bayar orang untuk membantu mengurus pekerjaan rumahnya kapanpun ia mau. Kini, ia bahkan seperti tidak ada waktu jeda untuk mengurus pekerjaan rumahnya. Tiada henti pekerjaan rumah bagaikan tiada hentinya. Selesai satu, muncul seribu. Selesai seribu, muncul satu juta. Itupun masih di anggap tidak ngapa-ngapain. 

Yah, inilah dia sekarang. Bahkan untuk merawat dirinya sendiri sepertu tidak sanggup. Namun dia ikhlas menjalaninya. Dia tulus melakukan semua itu. Dia tidak pernah menyesal memilih jalan itu. 

Namun, dia hanya membutuhkan suport dari orang terdekat, membutuhkan kasih sayang, membutuhkan pendengar yang baik dan setia ketika ia sedang ingin berkeluh kesah. Ia hanya membutuhkan sandaran bahu untuk menenangkannya. Ia hanya ingin pujian-pujian sederhana, atas kerja kerasnya setiap hari. Ia hanya ingin di hargai atas apa yang ia lakukan.  

Bukan lagi caci maki yang ia butuhkan. Bukan lagi tetesan air mata, bukan sebuah hinaan, bukan sebuah protes keras karena tidak bisa menghargai apa yang ia lakukan. Jika memang tidak sanggup di bahagiakan, setidaknya jangan menyakiti hatinya, jangan membuat ia hingga tiada henti meneteskan air matanya karena hatinya yang tersayat. 

Ia juga ingin, mendapatkan perlakuan yang adil saat ia menjadi Wanita Karir maupun sekarang saat menjadi Ibu Rumah Tangga. Ia ingin di hargai seperti saat ia bisa menghasilkan uang sendiri, ketimbang saat ia menjadi Ibu Rumah Tangga. 

Ada istilah sepele yang bisa di jumpai di postingan Instagram : 

" Suami sekarang kebanyakan pegang HP ketimbang ngobrol sama istrinya. Mitos atau Fakta?"

Saat ia mendengar istilah itu, ia bahkan berharap suaminya lebih baik pegang HP ketimbang ngobrol dengannya, jika ujung-ujungnya berdebat. Jika ujung-ujungnya menambah masalah baru sehingga terjadi pertengkaran hebat. 

Ya, inilah dia. Bahkan mencari teman sekedar ngobtol-ngobrol saja, agar ia tetap waras, agar ia bisa menjaga hubungan sosialnya dia. Itupun sangat sulit, sekalipun dari suaminya. 

Sebenernya sepele apa yang ia inginkan, tidak muluk-muluk dan bahkan sangat mudah di kabulkan. Karena ia orang yang sadar diri. Tidak pernah muluk-muluk minta di berikan fasilitas penunjang hidup yang mewah seperti saat ia masih menjadi wanita karir. Ia tidak ingin di belikan ini itu. Bahkan hanya untuk sekedar beli jajan pizza saja dia sama sekali tidak ingin. 

Parahnya lagi, dia tidak ingin di bahagiakan. Dengan tidak di sakiti hatinya, tidak di buat ia menangis, tidak di hina lagi, itu sudah membuat ia bahagia. 

Mari kita Doakan, semoga kelak ia hisa hidup bahagia. Bisa hidup apa yang terbaik buatnya juga buat keluarganya. Amin


Kulon Progo, 20 Agustus 2021

Dini hari, menjelang pagi pada pukul 23.40 WIB

Miss UT

Komentar